Header Ads

Image and video hosting by TinyPic

Sejarah Pakuan Pajajaran dalam berbagai versi

Sejarah Bogor - Pada masanya, Pakuan menjadi pusat pemerintahan atau ibukota Kerajaan Sunda yang sudah berdiri sejak berabad-abad lamanya di bagian barat pulau Jawa. Pusat pemerintahan ini dulunya berlokasi di dalam wilayah Bogor, Jawa Barat. Berikut adalah sejarah Pakuan Pajajaran dalam berbagai versi.

Kerajaan Sunda Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala, yang artinya: Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka, atau bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah (8 Mei 1579 M) akibat serangan dari pecahan Kerajaan Sunda, yaitu Kesultanan Banten.

Sejarah Pakuan Pajajaran dalam berbagai versi


Tamatnya riwayat Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Batu Palangka Sriman Sriwacana yang biasa digunakan untuk melantik Raja-Raja Sunda. Batu yang dikenal sebagai Watu Gilang itu dibawa dari Istana Pakuan ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Dengan disitanya batu tersebut, maka putuslah kekuasaan kerajaan Sunda, karena tidak memungkinkan lagi penobatan raja baru untuk menguasai tanah Pasundan. Namun dengan adanya batu tersebut di Keraton Surosowan, maka Maulana Yusuf menjadi penerus kekuasaan Sunda berikutnya, karena buyut perempuannya merupakan puteri dari Sri Baduga Maharaja yang bergelar Prabu Siliwangi.

Hingga kini, batu tempat pelantikan raja-raja Pajajaran itu masih bisa dilihat di depan bekas Keraton Surosowan, Benten. Batu ini dinamai Watu Gilang yang memiliki arti sama dengan Sriman, yaitu mengkilap.

Watu Gilang

Batu pelantikan raja-raja Pajajaran itu kini bisa dilihat di depan bekas Keraton Surosowan, Banten. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai watu gilang yang berarti batu mengkilap, sama seperti arti dari Sriman.

Adapun penyebutan nama Pakuan dan Pajajaran disebutkan dalam beberapa naskah sebagai berikut:

  1. Dalam Naskah Carita Waruga Guru tahun 1750 menerangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran berdasarkan di lokasi tersebut banyak ditumbuhi pohon pakujajar.
  2. Dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (K.F.Holle:1869) disebutkan bahwa di dekat kota Bogor ada perkampungan yang bernama Cipaku dengan aliran sungai yang bernama sama. Di daerah ini banyak ditumbuhi pohon paku, sehingga menurutnya nama Pakuan ada keterkaitan dengan adanya kampung Cipaku dan banyaknya pohon-pohon paku di daerah tersebut. Dengan kata lain, Pakuan Pajajaran berarti pohoh paku yang berjajar (op rijen staande pakoe bomen).
  3. Encyclopedie van Nederlandsch Indie yang ditulis oleh Rouffaer menyebut arti kata Pakuan yang memiliki pengertian "paku", tapi juga harus diartikan sebagai Paku Jagat yang melambangka sifat raja sebagaimana pada gelar Paku alam dan Paku Buwono. Pakuan bisa dianggap memiliki arti setara dengan Maharaja, sedangkan Pajajaran berarti sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Jadi gelar Pakuan Pajajaran berarti Maharaja yang kedudukannya setara dengan Raja Majapahit.
  4. Dalam De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (R.Ng.Poerbatjaraka:1921), ia menyebut bahwa Pakuan bisa berasal dari basa Jawa kuno 'Pakwwan' yang kemudian dieja dengan Pakwan (satu w). Bagi orang Sunda, penyebutan kata Pakwan lebih mudah diucapkan dengan Pakuan. Adapun Pakwan berarti kemah atau istana. Jadi menurutnya, Pakuan Pajajaran itu berarti Istana yang berjajar (aanrijen staande hoven).
  5. Pada tahun 1957, H.ten Dam, seorang pakar pertanian yang meneliti kehidupan sosial-ekonimi petani di Jawa Barat dengan pendekatan sosial melalui sejarah menyebut dalam tulisannya "Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), bahwa "Pakuan" ada kaitannya dengan 'lingga' atau tonggak batu yang terpancang di dekat Prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam carita parahyangan, Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya memiliki pengertian "paku". Menurutnya Pakuan bukanlah sebuah nama, melainkan kata benda umum yang artinya Ibukota (Hoffstad) dan harus dibedakan dari Keraton. Sedangkan penyebutan Pajajaran digunakan seusai kondisi topografi dengan merujuk laporan Adolf Winkler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak di antara Sungai Besar dan Sungai Tenggerang (Ciliwung dan Cisadane). Ten Dam berkesimpulan bahwa penyebutan nama Pajajaran adalah karena aliran sungai Cisadane dan Ciliwung mengalir sejajar untuk beberapa kilometer. Jadi menurutnya, Pakuan Pajajran memiliki makna Pakuan di Pajajaran atau Dayeuh Pajajaran.
  6. Penyebutan Pakuan, Pajajaran, dan Pakuan Pajajaran itu sendiri bisa ditemukan dalam Prasasti Batutulis dan Prasasti Kebantenan di Bekasi.
  7. Dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Sang Susuktunggal yang membuat palangka sriman sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji yang bersemayam di Pakwan Pajajaran di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu Pakuan Shanghyang Sri Ratu Dewasa (Sri Baduga). Dengan demikian, Pakuan dianggap sebagai Kadaton yang memilki nam Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Menutur tafsiran Poerbatjaraka, Pakuan Pajajaran berarti Istana yang berjajar.
Demikian ulasan mengenai Sejarah Pakuan Pajajaran dalam berbagai versi. 




No comments

Silakan komentar dengan sopan dan hindari komentar yang mengarah ke sara, ujaran kebencian, dan hujatan. Kami juga tidak mentolerir komentar spam.

Powered by Blogger.