Bondongan adalah nama salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Nama Bondongan berasal dari bahasa Sunda yang artinya memanggul barang secara beriringan (bari ngaleut - Red). Barang yang dibawa tersebut merupakan hasil pertanian yang terdiri dari cengkeh, kopi, umbi-umbian, hingga sayur-sayuran.

Penggunaan nama Bondongan menjadi nama wilayah memang berkaitan dengan daerah-daerah lain di sekitarnya, seperti Kampung Gudang, Empang, Lawang Saketeng, dan Pasar Bogor yang dahulu menjadi pusat aktivitas jual-beli masyarakat Bogor Tempo Dulu. Hasil bumi itu dibondong sampai ke daerah-daerah tersebut. 

Sejak 7 Juli 1879, Museum Perjoangan Bogor pada awalnya adalah sebuah bangunan gudang miliki warga Belanda yang bernama Wilhelm Sustaff Wissner. Setelah beralih kepemilikan selama beberapa kali, bangunan ini pun beberapa kali mengalami perubahan fungsinya. Berikut Sejarah Museum Perjoangan Bogor.

Sejarah Museum Perjoangan Bogor.


Pada Juni 1938, Partai Indonesia Raya (Parindra) cabang Bogor menjadikan rumah ini menjadi kantor mereka. Kedatangan Jepang ke Indonesia pada 9 Maret 1942, langsung menguasai rumah ini dan menjadikannya sebagai gudang logistik para tentara Jepang.

Setelah peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang bertekuk lutut pada Sekutu dan membuat mereka harus hengkang dari Tanah Air. Beragam laskar rakyat dan organ perjuangan lain berkumpul di rumah ini, untuk saling berkoordinasi dan menyusun strategi perjuangan. Di antara mereka terdapat Mayor Oking, Margonda, dan Kapten T.B Muslihat.

Baca: Klipingan Koran yang memuat Perjuangan Kapten Muslihat

Pada tahun 1949, rumah ini digunakan menjadi Kantor Pemerintahan darurat Kabupaten Bogor. Lalu sekitar 1952, sempat juga digunakan menjadi Sekolah Rakjat (SR).

PADA 26 Oktober 1957, puluhan pejuang kemerdekaan se-Karesidenan Bogor berkumpul di rumah Bupati Bogor, R.E. Abdoellah, di Jalan Panaragan No. 31. Secara aklamasi, mereka menyepakati bahwa gedung di Jalan Cikeumeuh No. 28 (sekarang Jalan Merdeka) sebagai Museum Perjoangan.

Perubahan fungsi bangunan ini menjadi Museum Perjoangan disepakati oleh para pejuang kemerdekaan se-Karesidenan Bogor yang berkumpul di rumah Bupati Bogor, R.E. Abdoellah, di Jalan Panaragan 31, pada 26 Oktober 1957.

Satu bulan kemudian, yaitu pada 10 November 1957, dewan pengurus Yayasan Museum Perjoangan Bogor (YMPB) mulai dibentuk dan dilantik langsung oleh istri almarhum Kapten Muslihat, Kartinah Muslihat.

Tak lama berselang, muncul surat keputusan Pelaksana Kuasa Militer Daerah Res. Inf 8/III-No. Kpts/3/7/PKM/57, yang berisi arahan kepada pengurus YMPB untuk mempersiapkan dan mengusahakan gedung Museum Perjoangan agar dapat diwujudkan dan diresmikan pada 17 Agustus 1958.

Selama dekade 1958 s/d 1981, Museum Perjoangan Bogor hampir tak pernah tersentuh renovasi, sampai jawatan Gedung-gedung Bogor pada 18 September 1981 menyatakan bahwa kondisi bangunan Museum Perjoangan Bogor secara keseluruhan dinyatakan sudah rusak, sehingga membutuhkan perbaikan.

Pihak yayasan kemudian berusaha melakukan renovasi dengan melakukan penggalangan dana. Renovasi selesai pada Juni 1987 dengan menghabiskan dana sekira Rp 80 juta. Sejak itu, Bangunan bertingkat satu ini pun mulai menambah koleksinya, terutama dari era revolusi fisik 1945.

Sejarah Museum Perjoangan Bogor.

Beberapa koleksi diorama perjuangan pun dibuat sebagai bagian koleksi museum, seperti diorama peristiwa pertempuran Kapten Muslihat pada 25 Desember 1945, pertempuran di Maseng, pertempuran di Kota Paris, dan Pertempuran di Cemplang.

Beberapa koleksi museum antara lain: Dokumentasi perjuangan, foto asli pada tokoh pejuang Bogor, koleksi senjata hasil rampasan perang, seragam, pakaian yang dikenakan pejuang, hingga koleksi benda-benda bersejarah lainnya.


Lokasi Museum Perjoangan Bogor 





Masjid Agung At Tohiriyah yang terletak di Kelurahan Empang Bogor adalah salah satu Masjid Agung yang tertua di Bogor. Dari catatan sejarah yang ada di masjid ini, Masjid At-Tohiriyah didirikan di atas lahan seluas lebih kurang 750 meter persegi pada tahun 1817 oleh Raden Muhammad Thohir yang adalah cucu dari Dalem Cikundul Cianjur alias Raden Arya Tanu Datar bin Aria Wangsa Goparana (1677-1691) seorang Bupati Cianjur Pertama.
Powered by Blogger.