Header Ads

Cinta Raja Pembawa Petaka

Sebelum pulang ke Sumedang Larang usai memperdalam ilmu agama di Demak, Prabu Geusan Ulun menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan Pangeran Girilaya di Cirebon. 
Cinta Raja Pembawa Petaka

Sebenarnya, Kerajaan Sumedang Larang dan Cirebon memiliki keterikatan kekeluargaan. Ayah Prabu Geusan Ulun yakni Pangeran Santri tak lain adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang mendirikan Kesultanan Cirebon. Mendapat kunjungan dari kerabatnya, Pangeran Girilaya kemudian menerima Prabu Geusan Ulun dengan sangat baik. 

Keramahan Prabu Geusan ulun, ditambah lagi dengan wajah tampannya mampu mempesona rakyat dan para keluarga kerajaan Cirebon. Karena sikapnya itu juga, semua orang merasa segan dan memberikan pujian kepada tindak tanduk Prabu Geusan Ulun. Bahkan ketika sang Prabu memasuki pendopo kerajaan, para menak yang ada di sana, termasuk sang Pangeran pun terpesona dibuatnya. 

Pada saat kedua Pangeran ini sedang berbincang-bincang akrab, datanglah permaisuri Harisbaya menyajikan santapan. Ketika melihat Geusan Ulun, permaisuri langsung jatuh hati karena ketampanannya. 

Sampai kemudian di suatu malam, Prabu Geusan Ulun terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara langkah seseorang yang mendekatinya. Betapa terkejutnya ia setelah tahu bahwa orang yang datang malam itu adalah Ratu Harisbaya. Tambah terkejut lagi ketika sang ratu memaksa untuk ikut dengannya ke Sumedang. 

Dipanggilah keempat patihnya untuk berdiskusi mencari cara bagaimana menasehati sang Ratu agar tidak ikut dengan mereka, apalagi sang ratu mengancam akan bunuh diri jika tidak diperkenankan ikut bersama Geusan Ulun. 

Mbah Jayaperkosa menyarankan agar Ratu Harisbaya diajak saja ke Sumedang Larang, karena dibawa atau tiadaknya Ratu ke Sumedang tetap akan menimbulkan perselisihan. Alhasil, malam itu menjadi malam terakhir Prabu Geusan Ulun di Cirebon, karena mereka semua kemudian pergi secara diam-diam ke Sumedang Larang tanpa berpamitan kepada Pangeran Giri Laya.

Pada pagi harinya, Keraton Cirebon gempar dengan berita hilangnya Ratu Harisbaya. Kehebohan kian menjadi setelah diketahui bahwa rombongan dari Kerajaan Sumedang Larang pun ikut menghilang. Dalam pada itu, muncul kecurigaan bahwa Ratu Harisbaya telah diculik ke Sumedang. Pangeran Giri Laya pun memerintahkan pasukannya untuk mengejar Prabu Geusan Ulun. Dalam pengejarannya, para pasukan menemukan jejak-jejak berupa bau wangi khas dari pakaian yang sang Ratu. Tempat ditemukan jejak itu kemudian dikenal dengan nama Darmawangi.

Di lain pihak, romobongan Prabu Geusan Ulun sudah sampai di Kutamaya, ibu kota Kerajaan Sumedang Larang. Adapun kabar mengenai pengejaran pasukan Cirebon sudah sampai di telinga para patih. Kabar itupun segera disampaikan pada sang Raja. 

Dengan titahnya, Prabu Geusan Ulun memerintahkan penghadangan pasukan Cirebon di perbatasan Kerajaan untuk mencegah pertempuran terjadi di wilayah Sumedang Larang. 

Pada saat itulah Mbah Jayaperkosa berkata: 

"Paduka, hamba berempat sanggup menghadapi musuh. Gusti tak perlu khawatir dan jangan pula gentar, diam saja di keraton. Hamba akan memberi tanda dengan menanam pohon hanjuang di sudut alun-alun. Nanti, kalau perang sudah berakhir, lihatlah! Jika pohon hanjuang itu gugur daunnya maka itu artinya hamba telah mati di medan perang. Tapi jika pohon itu tumbuh subur, maka itu berarti hamba unggul di medan perang. "

Keempatnya kemudian menunggu kedatangan pasukan Cirebon di sebuah tempat yang kelak dikenal dengan nama Dago Jawa. Melihat kedatangan pasukan Cirebon dalam jumlah besar, keempat patih Sumedang Larang bersama-sama memanjatkan doa dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Pertempuran terjadi dengan sangat sengit. Patih Sumedang Larang yang terkenal sakti itu berhasil melumpuhkan banyak prajurit Cirebon, sampai pasukan yang tersisa kemudian memilih untuk mundur. Akan tetapi, Mbah Jayaperkosa terus mengejar para pasukan yang bergerak mundur itu, sampai ia terpisah jauh dari ketiga kawannya. 

Kemenangan Pasukan Sumedang Larang mencegah kedatangan Pasukan Cirebon tentu saja menjadi kabar gembira bagi Geusan Ulun dan rakyatnya. Namun hatinya semakin bimbang tatkala mengetahui bahwa Mbah Jayaperkosa masih juga tak kunjung kembali ke Keraton. 

Ketiga patihnya pun telah menganggap bahwa Jayaperkosa sudah gugur di medang perang. Hal ini tentu saja membuat sang Prabu sedih hingga memerintahkan semua rakyat dan pasukan meninggalkan Kutamaya. Pada saat itu, sang raja telah melupakan pesan dari Jayaperkosa tentang pertanda di pohon hanjuang yang ditanamnya di alun-alun Kutamaya. 

Sampailah Prabu Geusan Ulun beserta rombongan di sebuah daerah yang bernama Batugara. Di tempat ini, permaisuri Geusan Ulun yang bernama Nyi Mas Gedeng Waru jatuh sakit dan wafat. 


Prabu Geusan Ulun dan rombongannya kemudian sampai di daerah bernama Batugara. Di tempat ini permaisuri Prabu Geusan Ulun yang bernama Nyi Mas Gedeng Waru jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Melihat kondisi Batugara yang dirasa tidak cocok untuk mendirikan ibu kota. Rombongan Prabu Geusan Ulun meneruskan perjalanannya menuju ke lereng sebuah gunung. Dari lereng gunung ini dapat melihat dan mengawasi keadaan sekitar dengan jelas. Diputuskanlah untuk mendirikan ibu kota kerajaan di tempat ini. Daerah ini kemudian disebut sebagai Dayeuhluhur.

Jayaperkosa yang mengejar sisa pasukan Cirebon kemudian kembali ke tempat pasukannya menunggu. Namun ia tak menemukan siapapun di tempat yang dijanjikan untuk bertemu. Kemudian dia pergi menuju Kutamaya namun tempat itu sudah kosong ditinggalkan penduduknya. 

Jayaperkosa semakin kecewa karena tanda berupa pohon hanjuang yang ditanamnya dahulu tumbuh sumbur dan tidak mendapat perhatian. Dalam keadaan marah Jayaperkosa melihat asap di lereng gunung sebelah timur. Dengan sekali hentakkan kaki Jayaperkosa telah sampai di lereng gunung yang dituju. Tempat Mbah Jayaperkosa menginjakan kakinya itu sekarang disebut sebagai Gunung Pangadegan.

Jayaperkosa kemudian menghadap Prabu Geusan Ulun, dia berkata. “Gusti! Mengapa kerajaan Gusti tinggalkan? Tidakkah Gusti percaya kepada hamba?”

Prabu Geusan Ulun menjawab dengan suara pelan. “Oh, Eyang! Engkaulah tulang punggung Sumedang Larang. Kami merasa bingung saat mendengar berita bahwa Eyang tewas di medan perang. Saya ingin menyelamatkan rakyat dengan pergi meninggalkan Kutamaya. Dari tempat ini kami dapat melihat jelas ke arah manapun sehingga musuh yang datang dari jauh juga dapat terlihat,”.

Kemudian Mbah Jaya Perkasa berkata, “Mengapa Gusti tidak melihat pertanda dari pohon hanjuang yang hamba tanam?” “Maafkan kami Eyang. Ketika itu kami lupa untuk melihat pertanda itu”. “Lalu dari siapa Gusti mendengar kabar bahwa hamba telah gugur?” 

“Mbah Nanganan yang mengabarkannya” jawab Sang Prabu. Mendengar jawaban Prabu Geusan Ulun itu, Mbah Jayaperkosa semakin murka. Saat itu juga Mbah Nanganan ditikamnya hingga meninggal dunia. 

Jasad Eyang Nanganan kemudian ditendangnya hingga sampai ke daerah Citengah. Sedangkan Jayaperkosa lebih memilih untuk “ngahyang” di sebuah kabuyutan yang terletak di puncak Gunung Rengganis.

Versi lain penyebab perang antara Cirebon dengan Sumedang Larang menurut menurut cerita salah seorang  penjaga Museum Geusan Ulun bahwa Ratu Harisbaya yang berasal dari Madura sebenarnya adalah cinta pertama Prabu Geusan Ulun yang ketika muda bernama Pangeran Angkawijaya. Mereka sama-sama belajar agama Islam di Demak. Mereka kemudian berpisah dan setelah bertahun-tahun kemudian berjumpa lagi di Cirebon saat itu Harisbaya sudah menjadi istri Pangeran Giri Laya. Akhirnya benih-benih cinta lama bersemi kembali. Jadi Ratu Harisbaya tidak secara  tiba-tiba jatuh hati dan menginginkan lari dengan Prabu Geusan Ulun.

Perselihan tersebut memberi akibat buruk bagi wilayah Sumedang. Prabu Giri Laya mengajukan beberapa persyaratan agar Cirebon mau berdamai dengan Sumedang, termasuk menjatuhkan talak kepada Harisbaya. Persyaratan tersebut adalah memberikan wilayah Sindangkasih / Majalengka kepada Kesultanan Cirebon.

Dengan hilangnya sebagian kekuasaan tersebut, kondisi Kerajaan Sumedang Larang kian melemah, terlebih lagi pada saat itu Sumedang harus menghadapi serangan dari pihak Banten yang saling berebut wilayah dan pengaruh di bekas kerajaan Sunda. 

Dengan ketidakberdayaannya, Sumedang Larang meminta bantuan kepada Mataram. Sehingga sejak 1620, Sumedang Larang bukan lagi berdiri sebagai kerajaan takan tetapi menjadi bagian wilayah bawahan Mataram. 
Semenjak Pangeran Suriadiawanga yang menggantikan kedudukan Prabu Geusan Ulung menjadi raja pada 1801, Sumedang dengan tulus ikhlas mengakui bahwa kerajaannya berada di bawah panji Mataram. Wilayah kekuasaannya itu kemudian dinamai "Prayangan yang kurang lebih bermakna tulus ikhlas. Konon dari nama itu muncul sebutan Priangan. 

Pangeran Suriadiwangsa sendiri merupakan anak Ratu Harisbaya yang kemudian mendapatkan gelar sebagai Pangeran Dipati Rangga Gempol I. 

Seperti dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar

Silakan komentar dengan sopan dan hindari komentar yang mengarah ke sara, ujaran kebencian, dan hujatan. Kami juga tidak mentolerir komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.