Cipakancilan yang terkucil - Sejarah bogor

Post Top Ad

Cipakancilan yang terkucil

Share This
Dalam buku Carita Parahiyangan nama Cipakancilan akan kita temukan karena sungai ini disebut “Dihulu Cipakancilan letaknya Karaton Pajajaran yang bernama Sri Bima-Punta_Narayana Madura-Suradipati” Juru pantun menyebutnya Cipeucang yang sama artinya dengan Pakancilan. 



Secara kirata barangkali sungai itu tempatnya peucang atau kancil melepas dahaganya untuk minum air yang dingin dan bening. Tetapi sekarang jangan dibilang begitu karena beningnya air sungai ini telah dirusak oleh manusia.

Itulah sebabnya Baron Van Imhoff tahun 1745 yang mendirikan Istana Bogor pernah berkata bahwa " Peradaban itu racun kemurnian manusia ". 

Apa yang disebutkan van Imhoff ada benarnya, bagaimana rusaknya lingkungan hidup dihancurkan oleh kita yang mengaku manusia modern.. 

Padahal dulu, sebuah karya besar teah dilakukan orang Bogor di tahun 1775, yaitu Membelah aliran sungai Cisadane, lalu mengalirkan sebagian airnya ke Sungai Cipakancilan.  

Pada muaranya ditepi Cisadane dibendung dan disalurkan lewat galian kanal. Dengan dialihkannya aliran sungai Cipakancilan maka terbentulah Kampung Pulo Empang yang dikelilingi oleh sungai.

Aliran Cipakancilan setalah dipecah jadi dua lagi jadi aliran Cidepit dan aliran ini diluruskan ke arah aliran Ciliwung.

Dalam catatan sejarah dua aliran Cisadane dapat bertemu dengan aliran Ciliwung dan peristiwa itu diresmikan pada tanggal 6 Agustus 1776 oleh Bupati I Bogor Demang Wiranata adik Wiranatu III.





Anak-anak kampung Empang mandi di Sungai Cipakancilan - Getty Images 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad