Kisah Si Buntung dari Cimanggu - Sejarah bogor

Post Top Ad

Bogor menyimpan beragam kisah misteri atau urban legend yang hingga kini masih diyakini kebenarannya. Salah satunya adalah cerita tentang Ki Idih si buaya buntung yang dulu pernah menghuni Cipakancilan yang membelah Cimanggu dengan Pondok Rumput. Berikut adalah kisahnya.. 

Kisah Si Buntung dari Cimanggu


Kisah Si Buntung dari Cimanggu Cipakancilan merupakan aliran sungai yang berawal di Sungai Cisadane. Keberadaan sungai ini diyakini telah ada sejak masa Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi memerintah Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan. Ada banyak kisah-kisah misteri mengenai Sungai Pakancilan ini, khususnya yang melintasi wilayah bubulak, pondok rumput, dan Cimanggu.

Selain cerita tentang sosok perempuan berbaju putih yang sering duduk sambil "uncang-angge" di pinggir jembatan pangaduan, masyarakat Cimanggu, khususnya yang tinggal di sekitar Cipakancilan-Jembatan Ki Idih, Ciereng dan Pondok Rumput tentu pernah mendengar cerita turun temurun mengenai buaya buntung yang dulu dipercaya menghuni tempat tersebut. 

Kisah tentang buaya buntung ki idih dimulai di sebuah tempat yang terletak di antara Kampung Cimanggu RW 05, dengan kampung Pondok Rumput yang berbatasan dengan aliran Sungai Cipakancilan. 

 Tidak seperti sekarang, Cipakancilan dulu adalah sungai yang sangat jernih, tenang, dan lebar. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai ini sering memanfaatkan airnya yang jernih untuk beragam keperluan mulai dari mandi, berenang, hingga mencari ikan.

Di pinggir sungai ada sebuah Mushola, yang didekatnya ada sebuah tempat pemandian yang biasa digunakan orang untuk mandi maupun bersuci sebelum sembahyang. Tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah rumah yang dihuni leh Ki Mursin dan istrinya, Ni Endu. 

 Pasangan suami istri ini selalu hidup rukun, meski keduanya berbeda dari sifat maupun karakternya. Ki Mursin adalah orang yang sabar dan pendiam, sedangkan istrinya memiliki sifat pemarah, tak sabaran, ketus, dan selalu mengeluh. 

 Ki Mursin bekerja serabutan, tetapi pekerjaan utamanya adalah sebagai penebang pohon yang pada waktu itu profesi tersebut tidak terlalu dibutuhkan setiap hari. Karena itu pula, Ki Mursin sering tidak membawa uang meski telah berkeliling kampung demi kampung mencari orang yang mau menggunakan jasanya menebang pohon. 

Walaupun begitu, rumah tangga Ki Mursin dan istrinya tidak pernah merasa kekurangan. Namun ada yang mengganjal dalam benak keduanya, yaitu mereka belum juga dikaruniai anak meski kini keduanya sudah cukup berumur. Karena keinginnya untuk punya anak begitu kuat, jiwanya mulai tertekan. Tingkah lakunya pun berubah menjadi kasar, suka bersumpah - serapah dan takabur. Adapun Ki Mursin hanya bisa pasrah saja menyaksikan keadaan istrinya. Namun nasib berkehendak lain, pada suatu hari Ni Endu merasa perutnya yang sangat mual saat terbangung di pagi hari. 

Kondisi yang sama dirasakannya juga keesokan harinya, bahkan hari - hari berikutnya perasaan mual tersebut kian sering menyerangnya. Setelah diperiksa oleh paraji (dukun beranak), ternyata Ni Endu sedang mengandung. Hal ini sontak saja membuat Ni Endu kegirangan. Sang suami yang mengetahui istrinya tengah hamil pun merasa sangat berbahagia karena harapannya untuk memiliki anak akan terkabulkan. 

Seperti mendapatkan suntikan semangat, Ki Mursin jadi lebih bersemangat dalam mencari nafkah sebagai penebang pohon. Bahkan kini, profesinya mulai bertambah jadi seorang tukang dan pencari rumput. Sifat Ni Endu pun berubah 360 derajat, dari yang tadinya suka mengeluh dan suka melamun kini menjadi perempuan yang lebih ceria dengan raut kebahagiaan terpancar di wajahnya.

Bulan demi bulan dilalui pasangan suami istri itu, sampai tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Di tengah dinginnya angin malam, Ibu Ea yang berprofesi sebagai dukun beranak sudah tiba di rumah Ki Mursin untuk membantu Ni Endu melahirkan. Namun betapa terkejutnya ia, saat mendapati sosok yang keluar dari rahim Ni Endu. 

Sosok itu tidak terlihat seperti bayi manusia, tetapi wujudnya lebih seperti kadal namun tidak bersisik. Anehnya lagi, tidak terdengar suara tangis bayi yang terdengar hanya suara Ki Mursin dan Bu Ea yang tidak henti-hentinya melantunkan takbir kebesaran Allah sang pencipta. Apapun yang akan diterimanya, Ki Mursin sudah pasrah dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa karena ia sudah dianugerahi bayi meski dalam wujud lain. 

 Esok paginya, para tetangga yang mendengar Ni Endu sudah melahirkan beramai-ramai mendatangi rumahnya untuk memberikan selamat sekaligus ingin melihat kondisi si bayi yang selama ini mereka idam-idamkan. Tetapi setelah melihat bayi tersebut, banyak tamu-tamunya yang lirih mengucapkan kebesaran Allah.

Kabar tentang Ni Endu yang melahirkan bayi yang lain daripada yang lain itu pun menyebar hingga ke seantero kampung. Pada hari pertama, bayi yang masih merah dan terbungkus kain panjang itu belum terliht bergerak-gerak, baru setelah beberapa hari kemudian bayi itu mulai menggeliat. Seiring dengan hal tersebut, Ki Mursin dan Ni Endu bermimpi bahwa bayi yang telah dilahirkannya itu meminta agar disimpan di dalam sebuah bak air yang terbuat dari tanah liat. 

Dalam mimpinya ada suara yang berpesan agar keduanya tidak sedih karena semua itu sudah merupakan kehendak Tuhan. Pada paginya, Ki Mursin menceritakan perihal mimpi itu pada istrinya, ternyata istrinya pun mengalami mimpi yang sama. 

Pada malam ketujuh, pasangan suami istri itu pun kembali bermimpi. Kali ini si bayi meminta agar diceburkan ke Sungai Pakancilan. Namun sebelum dimasukkan ke sungai, ia minta agar ekornya nanti dipotong. Dalam mimpinya itu juga, si bayi berpesan jika orang tuanya merasa rindu atau membutuhkan bantuan maka mereka bisa memanggilnya dengan nama "si buntung".

 Dengan perasaan sedih harus berpisah dengan anak yang sudah lama dinanti-nantikannya itu, pasangan suami istri itu pun menyanggupi permintaan si bayi. Setelah meletakkan sang bayi dalam bak yang berisi air, tangan Ki Mursin mulai memotong ekor yang ada di tubuh bayi tersebut. Dengan rasa sedih yang dalam, Ki Mursin dan Ni Endu melepaskan si buntung ke sungai Pakancilan. Di sungai, si buntung mulai menggeliat lalu bergerak seperti berenang dan menghilang dari pandangan. 

Sejak peristiwa tersebut, hubungan antara si bayi dengan kedua orang tuanya hanya berlangsung melalui mimpi-mimpi saja. Namun dalam mimpi mereka, sosok si buntung kini hadir dalam wujud sempurna sebagaimana anak manusia pada umumnya. Hal ini tentu tidak membuat Ki Mursin dan istrinya bersedih lagi, tetapi keduanya justru menganggap telah mendapatkan keistimewaan dari sang pencipta. Waktu terus berlalu, si buntung tetap hadir dalam mimpi-mimpi Ki Mursin dan Ni Endu sebagai seorang anak lelaki yang lucu dengan pakaian putih dan berkopiah. 

Sedangkan dalam dunia nyata, si buntung dalam wujud buaya kerap menampakkan dirinya kepada penduduk sekitar. Namun sesuai dengan yang diamanatkan Ki Mursin kepada para penduduk sekitar jika menjumpai si buntung dalam wujud buaya yang menakutkan maka mereka cukup berkata, "Buntung jangan mengganggu". 

 Hal ini jug pernah dialami oleh seorang penduduk sekitar Pakancilan yang saat itu hendak mandi di sungai. Saat melihat ada buaya, ia segera berkata "Buntung pergi, jangan di sini, kalau mau berjemur di sana saja" sambil menunjuk ke seberang sungai. Dan benarlah, sehabis berkata itu, buaya itu menghilang lalu muncul kembali di seberang sungai. Di tempat yang ditunjuk oleh orang itu, tampak seorang laki-laki berpakaian putih sedang duduk-duduk di pinggiran sungai. 

 Kisah si buntung memang cukup menarik untuk ditelusuri, apalagi cerita ini berkembang di masyarakat sekitar Cimanggu. Tapi ada juga kisah lain yang menyebutkan kalau si buntung sering bertarung dengan buaya-buaya pendatang, dan sering berkelana hingga ke Ciliwung, Cisadana, Citarum, bahkan sampai juga ke Cimandiri di Sukabumi. Ada juga yang percaya kalau si buntung sudah menghuni di salah satu sungai yang ada di Kota Jakarta. 

 Cipakancilan kini berbeda dengan dahulu, airnya tidak lagi jernih karena sudah tercemar oleh limbah rumah tangga dan industri. Namun kisah tentang si buntung tetap menjadi urban legend, meski kini sudah banyak kaum milenial yang sama sekali tidak mengetahui tentang kisah si buntung dari Cimanggu. Si buntung akan tetap menjadi legenda dan misteri tersendiri bagi kalangan yang meyakini keberadaannya. Urban legend itu akan tetap ada selama masih ada yang menceritakan kisahnya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad