Katulampa adalah salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Bogor Timur. Di daerah ini terdapat sebuah Bendungan yang setiap tahunnya selalu menjadi pusat perhatian warga Jakarta, terutama ketika musim hujan tiba. Berikut sejarah Bendungan Katulampa, bendungan tertua di Kota Bogor.

katulampa sejarah
Bendungan Katulampa adalah bendungan tertua yang ada di Kota Bogor.  Bendungan ini mulai dioperasikan sejak tahun 1911, namun perencanaannya sendiri telah dimulai sejak 1889 setelah banjir besar melanda sebagian kawasan Batavia (nama Jakarta tempo dulu) pada tahun 1872. 
Kutipan berita dibutuhkannya bendungan setelah banjir besar Jakarta pada 1672 yang konon juga menenggelamkan kawasan elit Harmoni terdapat dalam Bataviaasch Nieuwsblad, terbitan 12 Oktober 1912. 

“Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten” 


Terjemahannya adalah sebagai berikut: “Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup,”
baniir di batavia


Bendungan di Katulampa dirancang oleh Ir.Hendrik van Breen, seorang arsitek yang juga merupakan seorang pejabat Ingenieur der Gouvernements Waterleidingen (semacam PDAM di Batavia). 

Bendungan ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3 spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m. 

Konon, pembangunan bendungan ini telah menghabiskan biaya sebesar 80.000 Gulden. Pembangunan bendungan dimulai pada 16 April 1911, dan mulai diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Alexander Willem Frederick Idenburg tanggal 11 Oktober.

Saking dibutuhkan dan pentingnya bendungan ini, peresmiannya pun dihadiri oleh seluruh pejabat pemerintahan kolonial, mulai dari Gubernur Jenderal, Kepala Insinyr negara Roos, Ir Van Dissel, Ir Hendrik van Breen, Pengawas Leuwiliang dan Bogor, para anggota dean Ebbink, Administrator Ciomas, Residen Batavia, Asisten Residen (setingkat Wedana) Bogor, serta tak ketinggalan para patih-patih yang berasal dari Bogor, Batavia, dan Meester Cornelis (Jatinegara). 

Peresmian Bendungan Katulampa, dimeriahkan pula dengan tarian-tarian, gamelan, dan disertai juga dengan ritual selamatan mengubur kepala kerbau. 

bendungan katulampa tempo dulu
bendungan katulampa tempo dulu
BACA JUGA :   Sejarah Tugu Kujang sebagai landmark Kota Bogor


Bendungan Katulampa pada awalnya dimanfaatkan tidak hanya untuk memantau debit air Sungau Ciliwung saja, tetapi juga sebagai sarana irigasi untuk mengairi lahan persawahan seluas 5.000 hektar yang dulu banyak bersebaran di sisi kiri dan kanan bendungan. 

Pada musim hujan, Bendungan Katulampa dapat menampung debit air hingga 630 ribu liter air / detik, dan pernah mencapai ketinggian hingga 250 cm atau 2,5 meter pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010.

Dari Katulampa, air dari Sungai Ciliwung dialirkan melalui pintu air ke Kali Baru Timur (Oosterslokkan), yaitu saluran irigasi yang dibangun sekitar abad 18 atas prakarsa Gubernur Jendeal Baron van Imhoff. Kanal air ini melintasi kawasan Weltevreden aka Menteng. 

Pembuatan kanal tersebut sebelumnya ditujukan untuk lalu lintas pelayaran ke daerah-daerah pedalama yang ada di kawasan Bogor. Ide tentang lalu lintas sungai tersebut tak hanya diprakarsai oleh van Imhoff saja, tetapi Gubernur Jenderal Daendels, sang pencetus Jalan Raya Pos pun telah memiliki rencana untuk menggali kanal agar jadi lebih dalam, sehingga perahu berukuran bisa bisa melaluinya. 

Dari Bogor bagian timur, sungai buatan ini kemudian mengalir hingga ke Jakarta melalui pinggiran Jala Raya Bogor, dan berlanjut hingga Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum akhirnya bermuara di Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. 

Aliran Kanal Timur ini dahulu pernah digunakan untuk mengaliri persawahan yang terbentang di sepanjang jalan raya Bogor – Jakarta. 

Sampai awal tahun 1990, lahan persawahan yang teraliri oleh irigasi ini di Bogo dan Jakarta masih cukup luas, sekitar 2.411 hektar. Tapi pada saat ini, lahan persawahan tidak tersisa, sebagian besar telah berubah menjadi kawasan pemukiman dan pertokoan. 

Sungai Katulampa sekitar tahun 1920-1930
Sungai Katulampa sekitar tahun 1920-1930


Lahan persawahan yang masih bisa ditemukan di wilayah Bogor hingga Cibinong kini tersisa di bawah 72 hektar, dan akan terus menghilang seiring laju perkembangan zaman yang sulit dihentikan.

Semakin hilangnya lahan persawahan tersebut, maka fungsi irigasi dari Bendungan Katulampa pun menjadi tidak maksimal. Kini, Bendungan ini hanya difungsikan untuk memantau ketinggian air saja. 
Ketinggian air yang melewati bendungan Katulampa akan dicatat dan dikirim ke bendungan lain yang ada di kawasan Depok dan Pintu Air Manggarai. Dari catatan yang dikirimkan itu, petugas bisa memperkirakan waktu kedatangan banjir kiriman itu ke Jakarta sehingga masyarakat yang terdampak bisa melakukan antisipasi sedini mungkin.

Bendungan Katulampa hanya sebagai bendungan pemantau debit air, bukan bendungan yang bisa mencegah atau mengurangi banjid yang biasa datang di musim hujan, karena bendungan ini tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk menahan maupun membuka tutup pintu air. 

Bendungan Katulampa 



Tulisan ini sudah terbit di inilahduniakita.com

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here