Sebelum tahun 2000-an, deretan pohon kenari di pinggir Jalan Ahmad Yani, Tanah Sareal, Kota Bogor masih sangatlah rimbun. Di kiri-kanan jalan yang dahulu bernama Jalan Jakarta (Bataviasche weg) itu pun masih banyak ditemukan rumah-rumah kuno yang tampak masih asri dan penuh sejarah.  

Dua Masa di Jalan Ahmad Yani



Anda yang lahir di Kota Bogor sebelum tahun 1980an, pasti akan ingat deretan pohon kenari yang tinggi-tinggi di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Keteduhan senantiasa memayungi jalan raya yang membentang dari ujung Jembatan Satu Duit Warung Jambu sampai kawasan Air Mancur ini. 

Setiap musim buah, selalu penuh dengan kegembiraan anak-anak yang menyusuri jalanan memunguti buah-buah kenari yang berserakan. Tak jarang, ada yang sengaja mengumpulkan buah kenari ini untuk dijadikan bahan pembuatan kue, maupun aksesories seperti gantungan kunci yang diukir atau diberi hiasan sepasang bola mata.

Buah kenari yang sudah matang berwarna hitam mengkilap. Untuk mendapatkan bijinya, maka bagian cangkang buahnya harus dikeprok terlebih dahulu dengan menggunakan batu. Biji kenari berwarna putih, dan rasanya sangat renyah. 

Sebelum tahun 1970, Jalan Ahmad Yani bernama Jalan Jakarta yang merupakan terjemahan dari nama jalan ini di masa pemerintahan Hindia-Belanda, yaitu Bataviasche weg. Deretan pohon kenari yang berjajar di sepanjang jalan ini juga menjadi pembatas jalan dengan hamparan kebun-kebun karet. 

Dua Masa di Jalan Ahmad Yani



Jalan Ahmad Yani dahulu adalah jalan setapak, lalu oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels, jalan ini menjadi bagian dari proyek pembangunan Jalan Raya Pos / Grotepost weg, yang menghubungkan Pelabuhan Anyer di Jawa Barat dengan Panarukan, Jawa Timur. 

Pembangunan jalan raya pos ini ditujukan untuk memudahkan pengiriman barang dan surat-surat penting, termasuk bala bantuan jika diperlukan, terutama setelah agresi Inggris.. 

Pada sisi bagian barat jalan ini pada masa kolonial masih merupakan kebun karet dan arena pacuan kuda. Produksi karet tersebut terutama untuk menyuplai pabrik ban Good Year yang berdiri pada 1935. 

Arena pacuan kuda tersebut berupa satu lapangan yang sangat luas, dan berujung di Pejagalan. Bahkan, nama Gang Sapin berasal dari nama seorang pereparasi pelana dan sepatu kuda yang bernama Sapin.

pacuan kuda bogor
Arena Pacuan Kuda Tanah Sareal 
BACA JUGA :   Witte paal: kisah tugu yang telah hilang



Selepas kemerdekaan, kebun karet dan arena pacuan kuda kemudian berubah menjadi kawasan olahraga dan perumahan akibat penerapan kebijakan penataan struktur kepemilikan dan penguasaan tanah atau Land Reform. Saat it, bekas kebun karet dan arena pacuan itu telah menjadi Kompleks Stadion Pajajaran, Lapangan Luar Stadion Pajajaran, DKK, Kantor pemerintahan, Sekolah, dan kawasan pemukiman yang membentang dari Jalan Kesehatan sampai Jalan Dadali. 


Sejumlah bangunan peninggalan masa kolonial yang masih bertahan hingga kini pun bisa dihitung dengan jari, salah satunya adalah Wisma Keuskupan Bogor. Sebagian besar rumah-rumah kuno yang dahulu banyak berdiri di pinggiran Jalan Ahmad Yani telah hilang, berganti menjadi kafe, apotek, kantor, bahkan bengkel.

Persembahan Cinta 

Jalan Ahmad Yani juga menjadi saksi hubungan asmara antara Soekarno dan Hartini. Pada tanggal 7 Juli 1965, Soekarno mempersembahkan sebuah rumah indah kepada Hartini sebagai bukti cinta mereka.

Rumah persembahan ini dibangun di atas lahan seluas 1.200 meter persegi oleh arsitek Soedarsono. Rumah yang diberinama Srihana-Srihani ini memiliki 16 kamar, dengan pemandangan yang indah di halaman belakang yang berbatasan dengan aliran Sungai Ciliwung. Sekitar tahun 1972, rumah ini dibeli oleh keluarga Hasan Sastraatmadja, pendiri surat kabar Nusantara. 

Di Jalan Ahmad Yani juga ada Kompleks Istana Swarna Bhumi, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Wakil Presiden RI ke-2, untuk istri kelima, KRAy Nindyokirono (Norma Musa). Kondisi istana ini sudah tidak seindah dahulu, meski disampingnya kini telah berdiri sebuah hotel nan megah. 

Setelah Sri Sultan mangkat pada 1988, Ibu Norma sudah tidak lagi mendiami Swarna Bhumi, sehingga kompleks istana ini menjadi kurang pengawasan. Alhasil, Istana menjadi porak poranda karena banyak dipreteli. 

Jalan Ahmad Yani kini tidak serimbun dahulu, rumah-rumah kuno nan asri telah banyak yang hilang. Lambat laun, kawasan ini akan berubah menjadi kawasan yang super sibuk, meninggalkan berjuta kenangan manis yang tidak lagi bisa didapatkan. 


SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here