Pada masa 1980an, Kota Bogor pernah memiliki klub sepakbola ternama yang berisikan para pemain bintang. Bagi masyarakat Bogor yang hobi bola sejak era 80an pasti sudah tahu banyak tentang Yanita Utama. Klub kebanggaan kota hujan yang pernah menjawarai berbagai kompetisi bergengsi di tanah air. 

Sebelum melanglangbuana di Bogor, klub ini pada mulanya bermarkas di Lampung dengan nama Jaka Utama Lampung. Klub ini juga pernah membawa Lampung menjadi juara dalam cabang olahraga sepak bola di even Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung pada 1981 setelah mengalahkan Mercu Buana dari Sumatera Utara.

Setelah dibeli oleh seorang pengusaha asal Bogor, Jaka Utama kemudian hijrah ke Bogor pada 1982, dan mengganti namanya menjadi Yanita Utama Bogor. Penggunaan nama klub baru itu disosialisasikan melalui ajang turnamen kecil-kecilan yang bernama Yanita Utama Cup 1983. Turnamen yang digelar di Stadion Menteng, Jakarta Pusat ini diikuti oleh empat klub yaitu Mercu Buana (Medan), Pardedetex (Medan), Arseto (Solo), dan Yanita Utama (Bogor) selaku tuan rumah.

Selain mengenalkan nama baru Yanita Utama di kancah persepakbolaan dalam negeri, diadakannya turnamen ini juga dimaksudkan untuk menggalang dana dalam rangka perbaikan Stadion Pajajaran, Bogor yang saat itu masih dikenal sebagai Stadion Purana.

Galatama musim 1983/1984 Yanita Utama ikut bermain dan berhasil menjadi juara. Musim itu pun menjadi untuk pertama kalinya Galatama mengusung format babak final. Empat besar dari wilayah barat dan timur melenggang hingga ke babak 8 besar. Di final, Yanita Utama mengalahkan Mercu Buana dengan skor 1-0 yang dicetak oleh Bujang Nasril.

Kejayaan Yanita Utama selama mengikuti Galatama tidak bisa dilepaskan dari para pemain bintang seperti Joko Malis, Rudy Keltjes, Bambang Nurdiansyah, Herry Kiswanto, Maura Helly, dkk. Sebagian pemain berasal dari Niac Mitra Surabaya yang pindah ke Yanita lantaran klub mereka yang sedang melakukan peremajaan.

BACA JUGA :   Sejarah Pemerintahan Kota Bogor

Hal ini diungkapkan oleh Syamsul Arifin, mantan pemain Niac Mitra yang menjadi top scorer Galatama selama dua musim berturut-turut, 1980 – 1982.

“Joko Malis, Rudy Keltjes, dan Yudi Suryata memilih ke Yanita Utama Bogor. Kalau saya memilih pensiun,” ujarnya.

Perjalanan Yanita Utama untuk meraih gelar juara Galatama bukan tanpa perjuangan. Pada awalnya, klub yang semula bernama Jaka Utama Lampung ini didera oleh kasus suap. Dalam kondisi yang limbung itu, Pitoyo Haryanto, seorang pengusaha perkebunan membeli klub ini seharga Rp 25 juta.

Atas saran rekanya, Sigit Harjojudanto, Pitoyo mulai membangun kembali tim yang sudah compang-camping ini. Sebelum menggunakan nama Yanita Utama, sang pelatih, Yakob Sihasale dan sang manajer, Abdul Kadir melakukan beberapa perombakan pemain. Mereka berdua yang kemudian merekrut para pemain baru yang berasal dari klub-klub besar lain seperti UMS 80, Jayakarta, Niac Mitra, Pardedetec, dan Tempo Utama.

Aksi Yanita Utama Galatama
Aksi Yanita Utama Galatama

Namun di tengah membangun tim kesayangannya itu, Yakob Sihasale meninggal dunia. Dalam kondisi yang penuh duka dan terpukul karena ditinggalkan pelatih, Yanita Utama berusaha melanjutkan perjuangan mereka. Peran Yakob kemudian digantikan oleh Abdul Kadir dan Sofyan Hadi.

Sejak bermarkas di Bogor, Yanita Utama menjadi klub sepak bola kebanggaan masyarakat kota dan kabupaten Bogor. Acap kali klub ini bermin, mereka selalu tak ketinggalan menonton dengan penuh antusias. Permainan-permainan cantik Joko Malis dan kawan-kawan menjadi daya tarik warga Bogor, apalagi klub ini selalu menjuarai pertandingan-pertandingan.

Setiap kemenangan selalu disambut penuh gempita oleh warga Bogor yang rela berdesakan untuk bisa menonton di Stadion Pajajran. Bahkan tak sedikit yang nekat menonton dengan cara memanjat pagar atau pohon yang ada di sekitar Kolam Renang Mila Kancana.

BACA JUGA :   Hari-hari terakhir di Pakuan Pajajaran - Serangan ke Pelabuhan (Episode 2)

Antusiasme pecinta bola di Kota Bogor pun semakin besar tatkala Yanita Utama berhasil lolos ke final dan mengalahkan Mercu Buana dengan skor 1-0 di Istora Senayan, Jakarta. Gol semata wayang itu dicetak oleh Bujang Nasril di menit-menit awal pertandingan yang ditonton oleh sekitar 50.000 penontong yang memadati Istora Senayan.

Tahun berikutnya klub ini terus mengalami kejayaan setelah mengalahkan UMS 90 dengan skor 2-0. Dan di tahun yang sama, Yanita Utama mewakili Indonesia dalam turnamen antarklub ASEAN I yang digelar pada tanggal 20-29 Desember 1984 di Stadion Utama Senayan, dan Stadion Siliwangi Bandung.

Dalam pertandingan ini, Yanita Utama berhasil lolos ke partai puncak. Meski begitu, klub ini gagal meraih juara setelah kalah 1-0 oleh wakil dari Thailand, Bangkok Bank.

Laga final di Asean I ini pun menjadi aksi terakhir klub ini di kancah turnamen dan persepakbolaan Indonesia. Mengawali tahun 1985, Yanita Utama klub kebanggaan urang Bogor ini bubar. Para pemain kemudian melanjutkan kariernya di klub Kramayudha Tiga Berlian yang bermarkas di Palembang.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here