Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati yang lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya bernama Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaludin Akbar. Ibunda beliau adalah Nyai Rara Santang, puteri seorang Raja yang memerintah di Kerajaan Sunda, Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyi Subang Larang.

Pada waktu Syarif Hidayatullan bermukim di Cirebon, ia kemudian diangkat menjadi guru agama untuk menggantikan Syeikh Datuk Kahfi yang telah wafat. Oleh pamannya, Walangsungsang ia dinobatkan menjadi penguasa Cirebon.

Pada awalnya kekuasaan atas Cirebon dipegang sendiri oleh Pangeran Walangsungsang atas restu ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Namun karena rasa sayangnya yang besar kepada sang adik (Rarasantang) ia pun kemudian menyerahkan tahta Cirebon kepada Syarif Hidayatullah. Sedangkan Walangsungsang bertindak sebagai pelindungnya.

Atas dukungan para wali lainnya, tahun 1404 Saka (sekitar April 1482M), Syarif Hidayatullah memproklamirkan Cirebon sebagai kerajaan merdeka dengan melepaskan diri sebagai bawahan Kerajaan Galuh.

Hal ini tentu saja mengganggu perasaan Sri Baduga Maharaja sebagai penguasa di Tanah Sunda. Beliau kemudian mengutus Tumenggung untuk menyelidiki masalah ini. Konon kabar, sang Tumenggung tidak pernah kembali. Pada saat berada di Gunung Sembung, pasukannya disergap oleh prajurit gabungan Cirebon – Demak. Mengetahui utusannya tidak kembali, Sri Baduga kemudian memerintahan pasukannya untuk menyerang Cirebon.

Siliwangi pajajaran

 

Namun niat Sri Baduga berhasil dicegah oleh Ki Purwagalih, seorang Purohita atau pendeta tertinggi kerajaan dengan pertimbangan bahwa Syarif Hidayatullan adalah cucu Sri Baduga  yang diangkat sebagai penguasa Cirebon oleh putera Sri Baduga sendiri yaitu Walangsungsang.

Saran dari Purohita itu pun berhasil meyakinkan Prabu Siliwangi untuk tidak memerangi Cirebon. Dalam buku rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, pandeta tersebut menyarankan bahwa: “Seorang kakek yang memerangi anak (Walangsungsang) dan cucunya (Syarif Hidayatullah) tentu akan dicemoohkan orang” .

BACA JUGA :   Arti dan Makna Lambang Kota dan Kabupaten Bogor

Begitu pun dari pihak Cirebon, ada keengganan untuk memerangi Sri Baduga Maharaja yang masih dianggap leluhurnya. Perasaan dan keterkaitan keluarga dari kedua belah pihak ini yang berhasil meredakan perseteruan antara Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dengan para penguasa Cirebon.

Bersambung ke Hari-hari terakhir di Pakuan Pajajaran – Serangan ke Pelabuhan

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here