hotel salak dibet

Hotel Salak Heritage terletak tidak jauh dari Istana Bogor. Jika menyusuri kembali perjalanan sejarah, bangunan hotel ini yang berdampingan dengan Balaikota Bogor ini merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial tertua yang sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Hotel ini juga pernah enam kali berganti nama. 

hotel salak dibet

Bangunan hotel yang kini bernama Hotel Salak pada awalnya berupa rumah penginapan yang dibangun pada 1856. Pembangunannya bersamaan dengan renovasi Istana Bogor (Buitenzorg Pallais) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Albertus Jacobus Duymaer van Twist (1851-1856). Twist merenovasi bangunan istana lama yang sudah rusak akibat gempa yang pernah melanda Bogor pada 1834. Ia kemudian mendesain ulang bentuk bangunan istana dengan arsitektur bergaya Eropa abad pertengahan.

Keluarga Twist sendiri yang menjadi pemilik dan mengelola rumah penginapan yang kelak menjadi sebuah hotel berkelas pada masanya. Hotel itu kemudian dikenal dengan nama Binnenhof Hotel.

Hotel binnenhof bisa dianggap sebagai hotel bintang empat  karena lokasinya yang dekat dengan pusat pemerintahan, istana, dan kebun raya.

Selain digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi tamu sang Gubernur Jenderal, Binnenhof juga menjadi tempat bertemunya para pengusaha Hindia-Belanda, dan menjadi tempat rapat untuk membahas administrasi pemerintahan.

Dua puluh tahun setelah kematian Twist (3 Desember 1887), binnenhof mengalami masa-masa kesuramannya, apalagi pada waktu itu pemerintahan Hindia-Belanda sedang dilanda krisis moneter.

Sejarah Perubahan nama Hotal Dibbets menjadi Hotel Salak the Heritage

Tahun 1913, hotel ini diambil alih oleh perusahaan NV American Hotel. Tapi sayang, meski telah berganti kepemilikan, namun hotel ini tetap mengalami kebangkrutan.

Tahun 1922 , dalam kondisi yang sudah terpuruk hotel ini dilikuidasi oleh E.A Dibbets, sang manager yang juga pemilik saham terbesar di N.V. American Hotel. Oleh sang manajer, hotel ini kemudian berganti nama menjadi hotel Dibbets.

BACA JUGA :   Klipingan Koran Nasional Tentang Perjuangan Kapten Muslihat

Tahun 1932, setelah berganti manajemen hotel kemudian ini berganti nama menjadi Hotel Bellevue-Dibbets. Hotel Bellevue-DIbbets kerap menampilkan tulisan onder Europ[eesch] beheer, Eropeesch beheer (dikelola atau dibawah manajemen orang Eropa). Hal ini menunjukkan bahwa para turis tidak perlu mengkhawatirkan pelayanan dan fasilitas hotal karena pengelolanya adlaah orang Eropa yang memahami keinginan para tamunya.

Pihak manajemen juga sangat gencar mempromosikan hotel Bellevue-Dibbets dan Buitenzorg di Eropa. Alhasil, para wisatawan yang berkunjung ke Eropa akan menyempatkan diri untuk menginap di Hotel mereka.

Kedatangan militer Jepang ke Indonesia pada tahun 1942 membuyarkan semuanya. Belanda harus menyerah kalah pada Jepang dan harus segera hengkang dari tanah jajahannya. Hotel yang sempat terlantar kemudian digunakan oleh pihak Jepang sebagai markas militer mereka atau Kempetai.

Kekuasaan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama, pada tahun 1945 dua buah bom atom memporakporandakan kota Hiroshima dan Nagasaki. Kondisi tersebut membuat Jepang harus terpaksa menyerah kalah pada Sekutu. Selama masa transisi dari tahun 1945 s/d 1947, bangunan hotel ini kembali menjadi markas bagi para tentara Sekutu.

hotel salak jaman dulu

Setelah tahun 1948, bangunan hotel ini kemudian diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Republik Indonesia. Oleh Pemerintah yang berkuasa saat itu, hotel ini tidak mendapatkan perhatian karena mereka masih sibuk mengurusi negara yang masih seumuran jagung.

Barulah pada tahun 1950, bangunan hotel ini direnovasi dan mendapatkan nama baru yaitu Hotel Salak.

Perubahan nama kembali dilakukan pada September 1998 dengan nama baru yang masih digunakan hingga kini, yaitu Hotel Salak the Heritage.

salak

Perubahan nama kembali dilakukan pada September 1998 dengan nama baru yang masih digunakan hingga kini, yaitu Hotel Salak the Heritage. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here