Kereta api kini menjadi salah satu moda transportasi paling popular karena kecepatannya.  Jenis angkutan massal ini menjadi pilihan banyak semua kalangan karena bisa terbebas dari kemacetan di jalan raya. Tapi siapa sangka, alat transportasi ini dulunya merupakan simbol modern yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan saja.

Keberadaan kereta api di Jawa sudah ada sejak 1863. Pada masanya alat transportasi ini digunakan untuk mendukung perekonomian Belanda, khususnya untuk hasil-hasil perkebunan yang ditujukan untuk kepentingan ekspor sejak diberlakukannya tanam paksa (Cultuurstelsel) oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830.

Selain itu, kereta api juga menjadi kebutuhan transportasi yang cukup layak, terlebih lagi pada saat itu jalan raya yang ada yaitu Jalan Raya Pos yang dibangun sejak masa Daendels (1808-1811) masih dianggap belum begitu memadai untuk kegiatan arus perdagangan.

Jalur kereta yang pertama kali dibangun adalah jalur dari Semarang ke Yogyakarta. Baru pada tahun 1871, rute tahap dua mulai dibangun yaitu yang menghubungkan Bogor (Buitenzorg) dengan Jakarta (Batavia).

Pembangunan jalur kereta Bogor – Jakarta diprakarsai oleh perusahaan jawatan kereta api milik Belanda yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschcappij (NIS) atau Nederlands East-Indies Railway Company.

Stasiun Bogor sekitar tahun 1927
Stasiun Bogor sekitar tahun 1927

Pembangunan jalur kereta ini berlangsung selama dua tahun yang dimulai pada tanggal 31 Januari 1873. Meski dianggap cukup menguntungkan namun rute ini masih terpisah dengan jalur kereta lain yang dimiliki NIS yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Maka untuk kepentingan yang lebih strategis, pemerintah Hindia Belanda kemudian memulai proyek jalan kereta api tersebut pada tahun 1875.

Dengan alasan yang sama pula, pemerintah yang berkuasa saat itu membentuk perusahaan kereta api Staatspoorroen Tramwegen in Nederlands-Indische. Kelak perusahaan ini membeli jalur Bogor-Jakarta dari NIS untuk kemudian melakukan pengembangan jalur ke wilayah lain yang dimulai dari Stasiun Bogor.

BACA JUGA :   Gedung Karesidenan di Jalan Juanda

Bersamaan dengan difungsikannya Stasiun Bogor pada 1881, jalur kereta api dari Bogor diteruskan hingga ke Cicurug, Sukabumi. Pada tahun 1888, jalur kereta api dari Sukabumi telah mencapai daerah Cilacap di Jawa Tengah.

Seiring dengan masuknya listrik ke Bogor. Pada tahun 1925, kereta api yang sebelumnya berbahan bakar batubara dan diesel mulai menggunakan tenaga listrik. Jalur KRL ini memiliki kapasitas hingga 1500 Volts DC. Pengadaan kereta rel listrik ini bertepatan dengan hari ulang tahun Staatsspoorwegen (SS) yang ke-15.

Foto Stasiun Bogor dari masa ke masa

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here