Sejarah Empang

Sebelum dikenal dengan nama Kampung Empang, kawasan ini dahulu bernama Kampung Sukahati atau Soekaati dalam ejaan lama. Banyak cerita sejarah mengenai kampung yang kini menjadi kawasan yang ramai dengan aktivitas masyarakatnya.

Tanjakan Empang 1900
Tanjakan Empang 1900

 

Jika menyebutkan kata Empang maka yang terbesit dalam pikiran kita adalah sebuah empang atau kolam ikan. Keberadaan kulah atau empang tersebut memang tidak akan ditemukan di kawasan Empang sekarang, terutama di alun-alun / lapangan Empang.

Tapi jika kita membuka sebuah dokumen bertanggal 18 Januari 1776 disebutkan bahwa rumah kediaman Bupati di Kampung Sukahari letaknya di sebalah timur Cisadane, dekat dengan muara sungai Cipakancilan. Rumah tersebut berdiri di atas lahan yang terletak di sebuah lembah dan di depannya terdapat sebuah kolam besar atau empang (vijver).

Jika merujuk pada dokumen tersebut, maka penyebutan nama Empang sudah mulai digunakan setelah tahun 1775. Bahkan sebuah dokumen bertanggal 28 November 1815, jelas-jelas menyebut kawasan ini dengan nama Kampung Empang.

Pada saat Kerajaan Pajajaran masih berdiri, kawasan Empang masih berupa seuah lapangan yang sangat luas. Di kawasan ini pula pada tahun 1579 pernah menjadi saksi sebuah pertempuran dahsyat antara pasukan Banten dengan Pajajaran.

Perang kolosal tersebut melibatkan ratusan prajurit yang bertempur mati-matian dengan menggunakan tombak, kujang, dan panah.

Prajurit Pakuan berusaha menghalau serangan para penyusup dengan segala macam cara, mulai dari melemparkan tombak, panah, dan menjatuhkan batu-batu besar dari atas pebukitan (kini Bondongan).

Benteng Pajajaran yang masih kokoh berdiri menjadi penghalang para penyerbu untuk masuk ke wilayah Keraton. Banyak pasukan musuh yang terperosok ke dalam parit pertahanan oleh lemparan batu maupun tertembus anak panah yang melejit dari busur para prajurit Pakuan.

BACA JUGA :   Sejarah Kebun Raya Bogor

Kokohnya pertahanan Pajajaran menyebabkan pertempuran ini berlangsung selama dua hari dua malam. Mayat-mayat prajurit yang berserakan menjadi mangsa binatang buas seperti harimau dan anjing liar yang dulu masih banyak berkeliaran.

Sayangnya, pakuan Pajajaran harus menelan kekalahan karena adanya penghianatan dari dalam. Tak bisa masuk melalui Empang, para prajurit musuh mencoba masuk melalui gerbang yang ada di Lawang Gintung.

Setelah gerbang terbuka, sirnalah semua kejayaan Pajajaran. Keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati hancur tak bersisa dibakar pasukan Banten pimpinan Jayaantea.

Setelah kehancurannya, Lahan Pakuan dibiarkan tak tersentuh selama ratusan tahun.
Kawasan Bondongan, hingga Batutulis menjadi hutan belantara yang penuh dengan binatang buas yang berkeliaran.

Kawasan Empang yang dahulu berupa alun-alun keraton, berubah menjadi daerah dataran rendah yang penuh dengan semak belukar dan berawa. Sampai kemudian Bupati Kampung Baru mengajukan permohonan pada Gubernur Jenderal Jacob Mossel untuk menyewa lahan di Kampung Soekaati yang akan dijadikan tempat kediamannya.

Lukisan yang menggambarkan kunjungan Gubernur Jenderal Van der Parra ke Rumah Demang di Kampung Soekaati tahun 1772
Lukisan yang menggambarkan kunjungan Gubernur Jenderal Van der Parra ke Rumah Demang di Kampung Soekaati tahun 1772

Penyebutan Empang muncul setelah Bupati Kampung Baru, yaitu Demang Wiranata (berkuasa 1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendopo. Wiranata sendiri sebelumnya menjabat sebagai Patih Cianjur dan juga adik dari Wiratanu III (Dalem Cicondre) yang sangat dikenal VOC sebagai pelopor perkebunan kopi di Jampang. Dokumen Belanda bertanggal 29 Desember 1761 juga menyebutkan bahwa Bupati Kampung Baru, Natanagara sudah berkedudukan di Kampung Sukahati.

Semenjak saat itu, sebutan Empang mulai lebih sering digunakan. Nama Sukahati pun perlahan-lahan lenyap. Pada tahun 1815, dibangun Masjid An Nur oleh Habib Abdullah bin Mukhsin Alatas.

Kemudian di tahun 1835, Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan Undang-Undang Wijkenstelsel yang isinya antara lain mengenai kampung etnis. Daerah Empang kemudian dijadikan sebagai kawasan perkampungan Arab, sedangkan orang-orang Eropa menempati kawasan sebelah barat Jalan Raya Pos (Jln Sudirman) mulai dari Witte Paal sampai ke seelatan Kebun Raya dan Cipakancilan. Orang-orang Tionghoa ditempatkan di daerah pecinan yang berbatasan dengan Jalan Suryakencana (Handelstraat) hingga ke Tanjakan Empang.

BACA JUGA :   Sejarah Pengadilan Negeri Kota Bogor

Pada masa kini, Empang telah menjadi kawasan yang super sibuk dan selalu ramai oleh aktivitas masyarakatnya. Sejumlah bangunan tua yang masih bisa dilihat di Empang antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas Rumah bupati Kampung Baru, Rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, serta Bendungan Empang. Naik ke atas (Bondongan) ada makam Raden Saleh Sjarif Boestaman, maestro lukis di era kolonial.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here