Header Ads

Nyi Raja Permas dan Dewi Sartika yang namanya diabadikan di Kota Bogor

Jalan Nyi Raja Permas adalah nama jalan yang lokasinya tepat di depan Stasiun Bogor, berdampingan dengannya adalah Jalan Dewi Sartika yang mengapit kawasan Taman Ria Ade Irma Suryani atau Taman Topi. Tahukah Kamu? Berdampingannya nama kedua jalan tersebut ternyata ada sejarahnya loh. Inilah kisah mereka ...


Nama lengkap Nyi Raja Permas adalah Raden Ayu Rajaperrmas, puteri dari Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV yang pernah menjadi Bupati Bandung. Nyi Raja Permas kemudian dinikahi oleh Raden Rangga Somanagara, seorang Patih Afdeling Mangunreja.

Pada tanggal 4 Desember 1884, Nyi Raja Permas melahirkan seorang bayi perempuan yang diberinama Dewi Sartika. Sejak kecil, Dewi Sartika yang sehari-hari dipanggilnya uwi iti memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak seumurannya.

Jl Nyi Raja Permas 1900
Jl Nyi Raja Permas 1900

Bahkan pada usia yang masih 10 tahun, Dewi Sartika sudah mampu berbicara dalam bahasa Belanda, dan yang paling menggemparkan adalah Ia mengajari anak-anak pembantunya dengan bahasa tersebut. Sifat mengajarnya memang sudah tumbuh sejak masih anak-anak.

Selama hidupnya, Nyi Raja Permas adalah tokoh yang sangat menentang kebijakan pemerntah kolonial yang dianggap merugikan rakyat banyak. Karena selalu bertentangan itu pula, Nyi Raja Permas kemudian ditangkan dan dibuang ke Ternate oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Adapun Dewi Sartika kemudian dirawat oleh pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Setelah berusia dewasa, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atas dukungan sang paman. Dukungan pun datang dari sang suami, Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang membantunya untuk mengembangkan sekolah ini.

Sakola Istri adalah sekolah khusus perempuan pertama di tanah Hindia-Belanda. Untuk menjalankan sekolahnya itu, Dewi Sartika dibantu Nyi Oewid dan Nyai Poerwa, sepupunya. Mereka kemudian mengajari 20 orang perempuan pertama di Pendopo Kabupaten Bandung.

Pada tanggal 11 September 1947, Dewi Sartika meninggal dunia pada usia 62 tahun di Cineam, Tasikmalaya. Pada tahun 1966, Dewi Sartika dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional sebagai perintis pendidikan untuk kaum wanita.

Untuk menghormati jasa keduanya, maka di Kota Bogor nama keduanya diabadikan menjadi nama jalan yang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Bogor yaitu Jalan Nyi Raja Permas menggantikan nama Jalan Stasiun (Station weg) yang dulu digunakan oleh Belanda, juga Jalan Dewi Sartika yang dulu bernama Jalan Kebon Kembang atau Park weg.




No comments

Silakan komentar dengan sopan dan hindari komentar yang mengarah ke sara, ujaran kebencian, dan hujatan. Kami juga tidak mentolerir komentar spam.

Powered by Blogger.