Header Ads

Misteri Letusan Gunung Salak 1699

Gunung Salak merupakan kawasan gunung berapi yang lokasinya berada di antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Sejak 2003, kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Ada beberapa peristiwa menarik terkait keberadaan gunung ini, mulai dari peristiwa Sukhoi hingga berita yang menyebutkan bahwa gunung ini pernah erupsi hebat di tahun 1699. Untuk menambah wawasan, sejarah bogor akan menguak misteri mengenai letusan Gunung Salak tersebut. 

Gunung Salak disebutkan pernah meletus pada tengah malam menjelang tanggal 5 Januari 1699. Beberapa referensi pun mengutip mengenai hal ini, termasuk dalam Data Dasar Gunung Api Indonesia - Edisi Kedua - susunan Badan Geologi 2011.

Dalam buku Sejarah Bogor (Saleh Danasasmita. 1983) halaman 84,  menulis bahwa Gunung Salak meletus di tahun 1699 dengan iringan gempa bumi yang sangat kuat. Begitu pun dalam buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa (2010) tulisan Restu Gunawan yang menyebut bahwa aliran lahar Gunung Salak menyebabkan pengendapan lumpur sungai yang nantinya membentuk Teluk Jakarta. Setelah 1699, garis batas panti bergeser 75 meter ke arah laut setiap tahunnya.

Apa yang diutarakan Gunawan selaras dengan paparan  Abdoel Raoef Soehoed dalam buku Banjir Ibukota: Tinjauan Historis dan Pandangan ke Depan (2002). Soehoed bahkan menuliskan bahwa letusan Gunung Salak tahun 1699 membuat Kota Batavia terkena hujan abu, juga dilanda arus lumpur yang besar.

Dalam tulisan di Pikiran Rakyat (2018) yang berjudul "Gunung Salak Tidak Meletus Tahu 1699" tulisan T.Backhtiar menyebutkan bahwa "Tahun 1668-1699 terjadi erupsi samping dan erupsi normal, erosi yang merusak lingkungan Gunung Salak II. Erupsi berupa letusan magnetik."

Dalam jurna Duta Rimba (1999) terbitan Perum Perhutani ada juga tulisan di halaman 50 yang menyebut bahwa Gunung Salak erupsi pada 1699. Letusan ini menghasilkan lahar dingin yang mendangkalkan sungai-sungai di mengalir hingga ke Batavia, termasuk salah satunya Sungai Ciliwung.

Namun dalam sebuah tulisan lama The Malay Archipelago (1869) yang dibuat oleh Alfred Russel Wallace., tidak menyebutkan apakah Gunung Salak pada 1699 memang mengalami erupsi atau meletus, Ia hanya menuliskan telah terjadi "letusan lumpur besar" dan menyakini setelahnya Gunung Salak sudah tidak aktif lagi.

Begitu pun dengan catatan resmi pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang tidak menyebutkan erupsi Gunung Salak. Laporan  J.A.van der Chijs di Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602-1811 (1886) hanya menyebutkan bahwa yang terjadi adalah gempa bumi, bukan letusan gunung.

Van der Chijs mencatat: “Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane, di belakang bekas keraton raja-raja yang disebut Pakuan, yang semula berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, sama sekali tidak ada pepohonan.”

Untuk mengetahui apa yang terjadi di Gunung Salak pada tahun 1699, otoritas Belanda di Batavia (Jakarta) kemudian mengirimkan tim khusus pimpinan Ram dan Coops. Ekspedisi ini, seperti disebut Frederik de Haan dalam Priangan, de Preanger-regentschappen Onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 (1911) dilakukan pada 1701.

Ekspedisi ini memberikan catatan bahwa tidak ada laporan serius mengenai nasib para penduduk yang bermukim di sepanjang Sungai Ciliwung. Jika Gunung Salak meletus dan mengalirkan lahar dingin, tentu akan menyebabkan kerusakan parah yang berdampak pada desa-desa yang berada di pinggiran sungai. Selain itu, juga berpotensi menelan korban jiwa yang cukup besar.

Kalaupun terjadi terjangan lahar dingin seperti, Danasasmita (1983) memperkirakan bahwa banjir bebatuan ini ambles ke dalam tanah yang terbelah di antara Sungai Ciliwung dan Cisadane, yang kemudian menyebabkan banjir di Batavia.

T. Bachtiar dalam artikel “Guguran Puing dari Gunung Salak” (Pikiran Rakyat, 2018) cenderung meyakini bahwa apa yang terjadi pada 1699 itu bukan letusan, melainkan debris avalanche atau guguran puing. Puing-puing di lereng gunung longsor dan berguguran akibat diguncang gempa bumi kemudian membentuk lembah besar dan dalam, sebagaimana laporan van der Chijs.

Adapun penelitian terbaru yang dilakukan Christopher J. Harpel, salah seorang ilmuwan dari Earth Observatory of Singapore, pada tahun 2015, mengungkapkan bahwa Gunung Salak memang pernah bebeberapa kali meletus, tapi bukan di tahun 1699. Erupsi Gunung Salak terjadi pada 1688, 1761, 1780, 1902, 1903, 1919, 1923, 1929, 1935, 1936, dan terakhir 1938.

Berbagai sumber

 

 

 

Tidak ada komentar

Silakan komentar dengan sopan dan hindari komentar yang mengarah ke sara, ujaran kebencian, dan hujatan. Kami juga tidak mentolerir komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.