Witte paal: kisah tugu yang telah hilang - Sejarah BOGOR

Post Top Ad

Selama ratusan tahun tugu ini pernah berdiri. Obelisk putih nan megah di persimpangan jalan raya yang dulu disebut Jalan Jakarta dan Pabaton, di  Buitenzorg tempo dulu. Sayang, kemegahan tugu tersebut tidak bertahan lama. Inilah kisah Witte Paal, si tugu yang hilang.

Dalam Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-IndiĆ«, 1 Juli 1925 menyebutkan bahwa "Keindahan kota Buitenzorg semakin meningkat karena Witte Paal yang didirikan di tiga jalur, yaitu Bataviasche weg, Pabaton dan Bubulak. Lambang kerajaan terlihat lebih megah, terpaku pada dinding tugu yang bercat putih. Selaras dengan tangga, dan vas yang memantulkan cahaya matahari."

witee paal bogor


Ada banyak pendapat mengenai asal dan usul pendirian Witte Paal atau Paal / Pilar putih ini. Dalam "Guide for Buitenzorg" disebutkan bahwa tugu ini didirkan pada tahun 1839 oleh Gubernur Jenderal De Eerens. Buku ini menyebutkan bahwa tujuan didirikannya tugu ini tak lain untuk menyegarkan pandangan mata para tamu dan penghuni istana ketika bersantai di depan Istana.

Penulis buku panduan itu beranggapan bahwa adalah keinginan Gubernur Jenderal untuk mendirikan bangunan tugu karena pemandangan dari Istana ke arah sepanjang jalan Pabaton (Kini Jln Sudirman) sangat monoton.

Versi lain menyebutkan bahwa tugu yang memiliki ketinggian yang sama dengan galeri depan Istana jika diambil garis sejajar ini dibangun oleh Sang Gubernur Jenderal de Eerens untuk memperingati hari pernikahan putrinya.

Selain sebagai tanda peringatan akan pernikahan putri sang Gubernur Jenderal, tugu ini dianggap sebagai tanda peringatan untuk mengenang kembalinya Buitenzorg dari Inggris yang pernah menguasai Hindia-Belanda dari 1811 s/d 1816.

witte paal buitenzorg


Terlepas dari mana versi yang tepat, tugu ini juga difungsikan sebagai titik triangulasi, yaitu titik koordinat untuk menentukan sebuah lokasi berdasarkan tinggi permukaan laut.  

Terlepas dari mana versi yang tepat, tugu ini juga berfungsi sebagai titik triangulasi, yaitu titik koordinat untuk menentukan sebuah lokasi berdasarkan tinggi permukaan laut. 

Sebuah koran nasional yang terbit tahun 1957 menyebutkan bahwa tugu pilar dibangun pada tahun 1865 dan diresmikan pada Januari 1866 oleh pejabat dari Jawatan Topografi (Topografie Beurau) yang bernama C.A.E. Matsger. Pilar setinggi 24 meter ini difungsikan sebagai titik triangulasi bagi jawatan topografi yang bersambung dengan titik titik lainnya yaitu titik tiang atas dari tiang bendera di istana Bogor, serta tujuh titik lain yang ada di wilayah bogor. 

Sebuah laporan di Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1941 menyebutkan bahwa tugu ini dicat ulang dengan warna yang lebih gelap sesuai arahan Komisi Dewan Kota. Hal ini dilakukan untuk menyamarkan tugu dan bangunan lain di sekitarnya dari serangan udara pihak Jepang. 

Namun kondisi ini tidak berlangsung lama, satu bulan kemudian warna tugu dikembalikan seperti semula. Tugu ini selamat dari perang, bahkan setelah Jepang menyerah kalah pun, bangunan ini masih berdiri kokoh. 

Ya, ketika tentara memasuk kota Bogr, tugu-tugu atau lambang Belanda banyak yang dihancurkan, misalnya patung di Stasiun Bogor, Pohon Beringin yang ada di Kebun Kembang, dan lain-lain. Tetapi tugu pilar ini tetap dibiarkan berdiri. Dai Nippon justru menghiasi dinding tugu ini dengan huruf-huruf kanji yang menunjukkan kemenangan Dai Nippon.

Era setelah kemerdekaan, tulisan berbahasa Jepang di tugu pilar dibersihkan oleh para pemuda yang kemudian menggantinya dengan tulisan berbahasa Inggris yang mengobarkan semangat revolusi seperti Hand off Indonesia, Dead Imperialism, dll. 

Militer Inggrislah yang kemudian menyematkan lambang Zeven December Divisie (Divisi 7 Desember), sebagai tanda peringatan sekaligus ungkapan terima kasih dari Eropa kepada Militer Belanda yang dianggap telah mengembalikan "kedamaian dan ketertiban".

Sayangnya, kemegahan tugu pilar ini tidak bertahan lama. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1958, DPRD dan Pemerintah Kotapraja Bogor sepakat untuk menghancurkan Tugu peninggalan Belanda ini. 

Keinginan untuk meratakan tugu tersebut tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. DPRD Kotapraja Bogor di bawah pimpinan Drs. Sutjipto sebelumnya mengadakan sidang kilat untuk membentuk Panitia Hari Kebangkitan Nasional untuk pembongkarannya. 

Sidang kilat ini juga sempat diwarnai penolakan oleh Kepala Jawatan Kadaster yang menerangkan secara teknis mengenai pentingnya tugu pilar ini sebagai titik pengukuran dan pembuatan peta. Kalau titik triangulasi ini dibongkar maka pembuatan titik baru tentu akan memakan biaya yang tidak sedikit. Meski begitu, mereka juga tidak berkeberatan jika memang tugu ini harus dibongkar 

Hasil sidang kilat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Sukarno oleh Kepala Daerah Kotapraja saat itu, Pramono Notosudiro. Presiden menyatakan tidak keberatan kalau penghancuran tugu itu sudah menjadi kehendak rakyat, tetapi beliau juga menyarankan agar mendirikan tugu nasional baru yang lebih megah dan layak.

Pembongkaran tugu pilar dilakukan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 1958 dengan menghabiskan biaya sekitar Rp. 15.000,-.

Pembongkaran tugu pilar dilakukan dengan meletakkan beberapa dinamit di setiap sudut pondasi tugu. Ledakan itu pun meratakan bangunan pilar yang dianggap sebagai monumen kesombongan Belanda.

tugu pilar
Witte Paal setelah diratakan dengan tanah


Untuk menggantikan fungsi keindahannya, dibuatlah sebuah taman kecil lengkap dengan kolam dan air mancurnya. Oleh penduduk setempat, kawasan itu kemudian dikenal dengan nama Air Mancur.

Seiring perkembangannya, kawasan ini sudah mengalami beberapa kali perubahan sampai kemudian dikenal dengan nama Taman Air Mancur. Meskipun begitu, sisa-sisa peninggalan tugu ini masih tetap digunakan, meski hanya sebatas namanya saja yaitu Lebak Pilar



Sejarah tidak akan pernah hilang  .. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages